Tuan,

captaingrey

Bagaimana jika ada seorang wanita yang mencintai anda? tentu bukanlah masalah bukan.
namun, bagaimana jika wanita itu seorang yang buruk perangainya? tutur kata yang tak santun dalam berbicara? atau seorang yang biasa saja parasnya?

atau bisa saja, tak cukup pandai mengenal keilmuan dunia. seorang yang memiliki mimpi dan cita yang sungguh untuk mencapainya saya usahanya biasa saja.

ibadah yang tak sebaik kelihatannya, hafalan Al Qur’an yang masih tersendat ketika mengulangnya.
dan bahkan, masih belum sempurna sepenuhnya mampu mencintai Penciptanya.

bagaimana jika wanita itu saya?

View original post

Antara Kita

 

berdoa

jikalau hijrah menjadi sebuah keharusan bagiku

aku sungguh kan melaksanakannya

dengan hati tulus ikhlas yang kan senantiasa tunduk pada Mu

atas kuasa Mu,-

janganlah Engkau melupakanku walau terkadang khilaf terbersit untuk kulakukan

dan kebathilan nyata kuabaikan

Rabbi, lindungilah hati ini akan kedengkian serta kezhaliman perusak atma

sucikanlah jiwa ini dari emosi serta nafsu yang menggerogoti seluruh raga

khusyu’ ingin kembali kuhayati

becumbu dengan do’a kepada Mu yang bergantungan di langit-langit kamar

menangis sedu ingin dekat pada Mu –

namun sungguh sulit, ya Allah

seberapa hinakah hamba Mu ini di mata Engkau

“maka jangan Engkau sesatkan aku,hamba Mu pada jalan yang Engkau murkai

arahkanlah aku untuk selalu berjalan dalam bimbingan Mu

antarkanlah hatiku untuk selalu menemui Mu di senyapnya malam

hanya diantara kita, ku ‘kan bersimpuh penuh permohonan pada Mu”

 

Ingin Mencintai-Nya Sepenuhnya

 

muslimah

lagi-lagi perbincangan antara sang pujangga dan sahabatnya. tapi kali ini bukan senja, ini siang ketika mentari sedang teriknya bersinar.

siang ini bukan sahabatnya yang berkisah, namun sang pujangga yang sedang dalam dilema. oh bukan- ternyata keduanya sama-sama dalam dilema. hanya berbeda saja kasusnya.

HZ : “Mau cinta sama Allah, tapi juga cinta sama makhluk-Nya. ternyata hal itu sulit ya untuk di imbangi”

AM : “mungkin- apalagi kalau ingin mencintai makhluk-Nya karena Dia. itu sepertinya agak sulit. apalagi di usia seperti ini”

HZ : “ingin bisa mencintai makhluk-Nya,yang mampu membawaku untuk lebih cinta kepada pencipta-Nya”

AM : “kamu tidak terlalu susah untuk mengimbangi. kalau aku harus menjauh dari makhluk-Nya yang ingin kusayangi, karena aku lebih memilih untuk mencintai Nya saja-

kadang aku bertanya-tanya. kenapa aku harus mengenal makhluk-Nya yang sama sekali tidak membawa pengaruh baik padaku. hanya membuatku semakin melupakan-Nya”

HZ : “di dunia ini kan ada yang haq dan yang bathil, dan bagi kita untuk mengetahui yang mana yang haq maka mestilah ada bathil-

dan keburukan yang kamu terima, supaya kamu dapat menjadikannya pelajaran di masa mendatang. supaya kamu tahu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, begitu bukan?-

Masya Allah, Allah memang benar-benar menguji hamba-Nya, ia berikan makhluk-Nya yang terlihat nyata sekali di panca indra untuk membuktikan seberapa cinta kita kepada-Nya”

maka bukan berarti semua keburukan yang kita terima dapat kita rutuki dan kita sesali. mungkin itu sebuah ujian bagi kita, ataupun sebuah teguran bagi diri kita untuk menyadari kesalahan yang telah diperbuat.

yang terpenting sekarang adalah, bagaimana kita dapat memantaskan diri di hadapan-Nya. tidak melampaui batas dengan makhluk-Nya. kalau ingin baik-baik ya dengan cara yang baik-baik pula bukan?

 

Pertemuan Ibaratkan Pelangi

LIM

kata mereka kami santai

kata mereka kami terlihat tak ada tekanan

kata mereka kami tak memiliki target pasti

kata mereka – kata mereka dan lagi-lagi kata mereka

biarlah mereka berkata apa

selagi pengorbanan tetap kita junjung bersama dan kita perjuangkan

selagi kebersamaan tetap kita rawat dan kita pertahankan

selagi kontribusi kita tidak habis biarpun pekerjaan mendekati garis finish

ku ibaratkan pertemuan kita adalah pelangi

kau sang biru yang menetapkan pertemuan kita menjadi candu

karena lembutmu dan candamu yang menepis seluruh resahku

dan kau sang ungu yang ceriamu menjadi alasan bagi tawaku

karena kesediaanmu dalam setiap kondisi dan setiap waktu

dan kau sang coklat-putih (walau itu bukanlah warna pelangi)

yang selalu menopang tubuhku ketika tertatih

yang tak pernah lupa untuk ingatkanku perjuangan ini bukanlah sekedar perih

telah satu periode kita lewati

oh belum- 9 bulan yang telah kita lewati

jatuh-bangun kalian hadapi tanpa keluh padaku

kalian tahu?

aku sampaikan maafku teruntuk kalian semua yang bersedia mendengarkan keluh kesahku

aku sampaikan maafku apabila pertemuan kita menjadi pelampiasan emosi

aku sampaikan maafku jikalau selalu abai dan jarang sekali memberikan apresiasi

pesanku untuk kalian semua – anisah, iruz, hazim

sebentar lagi selesai sudah kerja tim kita

namun ingatlah

perjuangan akan tetap diusahakan selagi nafas kita masih diperizinkan

jangan lelah dengan semua yang telah kita jalani

jangan jenuh biarpun kerja kalian tak ada yang menghargai

apa yang telah kalian usahakan untuk kemajuan kita

aku ucapkan terimakasih

kalian semua Perfect In Perfect!

berjanjilah, aku menunggu kehadiran kalian pada perjuangan yang selanjutnya

 

 

Ikan Lele

ikan-lele-goreng

AM : “ah – aku tak suka ikan lele”

HZ : “kenapa? Kau belum lagi mencobanya sudah berkata tak sukalah, tak nikmat lah”

AM : “lebih baik bukan? Daripada aku terlanjur mencicipinya ternyata tidak nikmat, dan aku tak bisa membuangnya karena mubazir – dan aku harus menghabiskan sisanya tanpa ada rasa asin ataupun gurih, aku harus menelan kehambaran itu hingga tak ada lagi sisa selain duri nya”

HZ : “setidaknya kau pernah mencoba kan? Kalau ternyata terasa nikmat?”

AM : “sungguh – aku tak berani lagi mencoba sesuatu yang belum pasti. Tak nikmat rasanya”

jangan sekali kau coba yang belum pasti kau ketahui. jangan sekali kau coba sesuatu yang kau sendiri bahkan tidak yakin. sekali kau coba lantas menyesal, maka tak ada lagi yang dapat mengembalikan keadaan seperti sedia kala.

senja jogja menyampaikan kisah seorang pujangga dan sahabatnya yang tidak suka ikan lele.

Belum

time

belum

perjalananku masih panjang

sebuah kisah yang di nanti dan tak terduga masih dibentangkan

tanpa arah dan tujuan dimanakah hati harus ku pijakkan?

belum

aku rasa belum cukup dewasa diriku tuk berlari sendiri

berjalan saja tak sanggup bagaimana bisa ku berlari?

mengejar guratan guratan takdir yang tergores pada lembaran milikku

tapi kurasa aku tak mampu

belum

tempo masih sangat lama untuk kujejaki

panjang sekali waktu yang harus kuamati perdetiknya

tak kunjung habis biarpun kutinggal pergi kemanapun ia

belum

maka jangan tinggalkan aku sendiri dalam sepi ini

jangan biarkan aku tersesat pada rimba gulita yang rimbun ini

jangan lepaskan aku pada tempat yang tak ku kenal ini

jangan tenggelamkan aku pada samudera fana ini

dan satu pinta lagi

jangan lupakan aku yang masih saja sibuk untuk menanti

 

sunrise

Jikalau merindu berbatas

Rindu padamu kan menyeruak bagai tak kendali

Jikalau rindu merasa

Rindu padamu kan bermetamorfosa beribu cara

Jikalau merindu apa adanya

Rindu padamu terpapar nyata dan kini merengkuh tak berdaya

Maka ku merindumu tanpa sadar

Merimbun di tepi hati

Terpangkas paksa kian menggila

Ketika merindu hadir

Aku bersumpah, tak dapat ku menolaknya

Senja yang menciptakan kesenjangan pada perbincangan kita

Mungkin karena lama tak bersua

Dari tatapmu pun aku menelan beribu makna

Berusaha merangkai indah sususan kata

Senja yang menciptakan kesanjungan pda kenangan

Dibawah rinai hujan, kita berpayungkan tangan

Mengapa kau mengajakku berkelana ketika pagi buta?

Menggenggam tangaku erat dan kau ajakku nikmati mentari beserta senyumnya hangatkan rasa kita

Tuk kemudian ku tersesat pada cerita yang tersimpul pada ego milikku

Untuk lupakan mengapa kala itu engkau melepas pelukmu

Membasahi berjuta rintikan tangis hujan

Menyisakan rembulan yang berkilau tuk kita nantikan hingga kini

Mungkinkah tersisa dariku yang tak ingin merelakan

27/03/17

Senja & Coklat Dingin

 

choco

 

Sebuah kisah di kala senja yang merindu pada satu sisi

“kamu tahu? Hilo coklat ini rasanya seperti rindu”

aku menyengir, melirik pada sedotan minumanku.

“bagaimana bisa dikatakan sebuah rindu?”

“ya, karena rasanya pahit di ujung lidah dan manis di kerongkongan. Rasanya pahit namun tetap saja kamu-aku menyesapnya, hingga habis tak bersisa –

Seperti sebuah rindu yang tak lagi nikmat rasanya, tapi kamu tak bisa menghentikan tuk menelannya beserta rasa pahit yang bersisa”

aku-dia, kami, tertawa getir sembari mengesap sisa-sisa rindu yang menggantung pada langit senja Yogyakarta.

Ketika seorang pujangga memberi petuah pada sahabatnya yang tengah dilanda dilema sendu

Dosakah Diriku?

siluet

Aku senantiasa memanjatkan do’a yang kusesahkan pada langit malam beserta anginnya yang menari-nari

Pada gemintang di tengah dinginnya yang mencekam, aku bersimpuh pada Mu

Aku menangis, meresahkan hatiku yang gelisah tak menentu arah

Buta akan kefanaan yang membelenggu atma dalam kehidupan yang kunjung datang

Aku berdosa pada-Mu

Aku tak dapat tertawa ketika seisi dunia menertawakan takdir semu

Dan kini telah terlukiskan tangan-tangan pendusta

Aku berzina

Mohon maaf pada Mu

Aku bodoh dengan segala kecerdasan yang terukir maya di pasir hilang di tangan angin

Membawa suara jahil yang merajalela

Aku hanyalah ketidak warasan yang tiba-tiba lahir

Minta ampunku pada Mu

Tanah Rantau, Umi

 

sunset

Umi,

Tahukah kau akan sesuatu yang kupendam telah lama di tanah Jogja ini?

Aku merindumu setiap kali ku jejakkan kakiku pada stasiun kereta nun di Jakarta

Aku tak tahan untuk tak merindu pada setiap lembut yang kau berikan padaku

Sungguh luruh airmataku andaikata aku tak kuat tuk menampungnya

Umi,

Tahukah kau bahwa aku telah belajar banyak di tanah rantau ini?

Betapa setiap pengalaman adalah guru dari segal-gala

Dan aku mendapatkan seluruhnya disini, diterik dan rintik bumantara ini

Kulewati tuk kutempa pribadiku menjadi sebuah kebanggaan bagimu

Umi,

Tahukah bahwa jarang sekali puisi tertuliskan tertuju untuk ‘umi’?

Dan kini aku sedang berusaha memvariasikan seluruh huruf yang tersusun ini

Menjadi rangkaian yang indah untuk dibaca oleh mata indahmu

Menjadi melodi yang tak asing lagi mengalun di benakmu

Umi,

Tahukah satu rahasia lagi yang belum sempat kusampaikan padamu?

Aku berjuang menegakkan harga diri demi nama baikmu yang kan terpancang

Dan kuharap kan teringat disetiap benak seluruh insan

Bahwa engkau adalah seorang ibu dari aku yang dibanggakan

Umi,

Tahukah kau bahwa seluruh ambisiku ingin kupadamkan sesegera mungkin?

Mungkin kau akan bertanya mengapa?

Karena ambisi telah merenggut hatiku dan mengibarkan bendera ego

Dan aku tak ingin bermetamorfosa menjadi sosok yang mengerikan

Terkendali oleh iblis ego yang memenjarakan benakku dari putih

Umi,

Tahukah kau bahwa aku temui kisah indah di tanah Jogja ini?

Harap-harap tidak akan ada yang menyakitiku di tanah ini

Jangan sampai seseorang pun menyiakan seluruh perasaanku

Ia yang telah menjadikan hari di sini bahagia

Dan kuharap kau tahu bahwa aku senantiasa menantikan hadirnya

Umi,

Tahukah kau jikalau aku mengharapkan sebuah kepulangan?

Yang panjang tanpa perlu kunaiki kembali kereta untuk meninggalkan kampung

Kepulangan yang mengantarkanku pada kenyamanan

Tengah kunantikan hari dimana aku berjanji kan mengabdi padamu

Umi,

Sungguh obati rasa rinduku ini dan sapalah aku dengan bahagia di wajahmu

Janji padaku tuk takkan mengecewakanmu, sungguh

Maka nantikanlah kemapananku diusia yang masih terbentang