Senja & Coklat Dingin

 

choco

 

Sebuah kisah di kala senja yang merindu pada satu sisi

“kamu tahu? Hilo coklat ini rasanya seperti rindu”

aku menyengir, melirik pada sedotan minumanku.

“bagaimana bisa dikatakan sebuah rindu?”

“ya, karena rasanya pahit di ujung lidah dan manis di kerongkongan. Rasanya pahit namun tetap saja kamu-aku menyesapnya, hingga habis tak bersisa –

Seperti sebuah rindu yang tak lagi nikmat rasanya, tapi kamu tak bisa menghentikan tuk menelannya beserta rasa pahit yang bersisa”

aku-dia, kami, tertawa getir sembari mengesap sisa-sisa rindu yang menggantung pada langit senja Yogyakarta.

Ketika seorang pujangga memberi petuah pada sahabatnya yang tengah dilanda dilema sendu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s