Terima Aku

 

Kembali kupinta pada Illah

Biarkan hamba-Mu ini berserah

Berkeluh atas hati yang mudah merasa resah

Apakah sekiranya hamba menimbun ribuan salah?

Kembali aku berkisah pada Illah

Wahai Rabb zat atas segala

Biarkan airmataku kini mengalir

Setelah begitu lama dipaksa tak bergulir

Kembali aku mengadu tangis pada Illah

Izinkan hamba-Mu tersedu pada hari ini

Izinkanlah ku sampaikan duka ku pada-Mu

Sungguh aku insan tak sempurna

Yang atas-Nya aku tak memiliki kuasa

Wahai Rabb sang pewujud dari do’a

Kuceritakan lirih pada tiap malam

Namun aku tak dapat melepas rasa sesak

Mengganjal di ujung hati yang kian bercabang

Berapakah dosa hamba sekiranya?

Advertisements

Tuan,

captaingrey

Bagaimana jika ada seorang wanita yang mencintai anda? tentu bukanlah masalah bukan.
namun, bagaimana jika wanita itu seorang yang buruk perangainya? tutur kata yang tak santun dalam berbicara? atau seorang yang biasa saja parasnya?

atau bisa saja, tak cukup pandai mengenal keilmuan dunia. seorang yang memiliki mimpi dan cita yang sungguh untuk mencapainya saya usahanya biasa saja.

ibadah yang tak sebaik kelihatannya, hafalan Al Qur’an yang masih tersendat ketika mengulangnya.
dan bahkan, masih belum sempurna sepenuhnya mampu mencintai Penciptanya.

bagaimana jika wanita itu saya?

View original post

Antara Kita

 

berdoa

jikalau hijrah menjadi sebuah keharusan bagiku

aku sungguh kan melaksanakannya

dengan hati tulus ikhlas yang kan senantiasa tunduk pada Mu

atas kuasa Mu,-

janganlah Engkau melupakanku walau terkadang khilaf terbersit untuk kulakukan

dan kebathilan nyata kuabaikan

Rabbi, lindungilah hati ini akan kedengkian serta kezhaliman perusak atma

sucikanlah jiwa ini dari emosi serta nafsu yang menggerogoti seluruh raga

khusyu’ ingin kembali kuhayati

becumbu dengan do’a kepada Mu yang bergantungan di langit-langit kamar

menangis sedu ingin dekat pada Mu –

namun sungguh sulit, ya Allah

seberapa hinakah hamba Mu ini di mata Engkau

“maka jangan Engkau sesatkan aku,hamba Mu pada jalan yang Engkau murkai

arahkanlah aku untuk selalu berjalan dalam bimbingan Mu

antarkanlah hatiku untuk selalu menemui Mu di senyapnya malam

hanya diantara kita, ku ‘kan bersimpuh penuh permohonan pada Mu”

 

Ingin Mencintai-Nya Sepenuhnya

 

muslimah

lagi-lagi perbincangan antara sang pujangga dan sahabatnya. tapi kali ini bukan senja, ini siang ketika mentari sedang teriknya bersinar.

siang ini bukan sahabatnya yang berkisah, namun sang pujangga yang sedang dalam dilema. oh bukan- ternyata keduanya sama-sama dalam dilema. hanya berbeda saja kasusnya.

HZ : “Mau cinta sama Allah, tapi juga cinta sama makhluk-Nya. ternyata hal itu sulit ya untuk di imbangi”

AM : “mungkin- apalagi kalau ingin mencintai makhluk-Nya karena Dia. itu sepertinya agak sulit. apalagi di usia seperti ini”

HZ : “ingin bisa mencintai makhluk-Nya,yang mampu membawaku untuk lebih cinta kepada pencipta-Nya”

AM : “kamu tidak terlalu susah untuk mengimbangi. kalau aku harus menjauh dari makhluk-Nya yang ingin kusayangi, karena aku lebih memilih untuk mencintai Nya saja-

kadang aku bertanya-tanya. kenapa aku harus mengenal makhluk-Nya yang sama sekali tidak membawa pengaruh baik padaku. hanya membuatku semakin melupakan-Nya”

HZ : “di dunia ini kan ada yang haq dan yang bathil, dan bagi kita untuk mengetahui yang mana yang haq maka mestilah ada bathil-

dan keburukan yang kamu terima, supaya kamu dapat menjadikannya pelajaran di masa mendatang. supaya kamu tahu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, begitu bukan?-

Masya Allah, Allah memang benar-benar menguji hamba-Nya, ia berikan makhluk-Nya yang terlihat nyata sekali di panca indra untuk membuktikan seberapa cinta kita kepada-Nya”

maka bukan berarti semua keburukan yang kita terima dapat kita rutuki dan kita sesali. mungkin itu sebuah ujian bagi kita, ataupun sebuah teguran bagi diri kita untuk menyadari kesalahan yang telah diperbuat.

yang terpenting sekarang adalah, bagaimana kita dapat memantaskan diri di hadapan-Nya. tidak melampaui batas dengan makhluk-Nya. kalau ingin baik-baik ya dengan cara yang baik-baik pula bukan?

 

Pertemuan Ibaratkan Pelangi

LIM

kata mereka kami santai

kata mereka kami terlihat tak ada tekanan

kata mereka kami tak memiliki target pasti

kata mereka – kata mereka dan lagi-lagi kata mereka

biarlah mereka berkata apa

selagi pengorbanan tetap kita junjung bersama dan kita perjuangkan

selagi kebersamaan tetap kita rawat dan kita pertahankan

selagi kontribusi kita tidak habis biarpun pekerjaan mendekati garis finish

ku ibaratkan pertemuan kita adalah pelangi

kau sang biru yang menetapkan pertemuan kita menjadi candu

karena lembutmu dan candamu yang menepis seluruh resahku

dan kau sang ungu yang ceriamu menjadi alasan bagi tawaku

karena kesediaanmu dalam setiap kondisi dan setiap waktu

dan kau sang coklat-putih (walau itu bukanlah warna pelangi)

yang selalu menopang tubuhku ketika tertatih

yang tak pernah lupa untuk ingatkanku perjuangan ini bukanlah sekedar perih

telah satu periode kita lewati

oh belum- 9 bulan yang telah kita lewati

jatuh-bangun kalian hadapi tanpa keluh padaku

kalian tahu?

aku sampaikan maafku teruntuk kalian semua yang bersedia mendengarkan keluh kesahku

aku sampaikan maafku apabila pertemuan kita menjadi pelampiasan emosi

aku sampaikan maafku jikalau selalu abai dan jarang sekali memberikan apresiasi

pesanku untuk kalian semua – anisah, iruz, hazim

sebentar lagi selesai sudah kerja tim kita

namun ingatlah

perjuangan akan tetap diusahakan selagi nafas kita masih diperizinkan

jangan lelah dengan semua yang telah kita jalani

jangan jenuh biarpun kerja kalian tak ada yang menghargai

apa yang telah kalian usahakan untuk kemajuan kita

aku ucapkan terimakasih

kalian semua Perfect In Perfect!

berjanjilah, aku menunggu kehadiran kalian pada perjuangan yang selanjutnya

 

 

Ikan Lele

ikan-lele-goreng

AM : “ah – aku tak suka ikan lele”

HZ : “kenapa? Kau belum lagi mencobanya sudah berkata tak sukalah, tak nikmat lah”

AM : “lebih baik bukan? Daripada aku terlanjur mencicipinya ternyata tidak nikmat, dan aku tak bisa membuangnya karena mubazir – dan aku harus menghabiskan sisanya tanpa ada rasa asin ataupun gurih, aku harus menelan kehambaran itu hingga tak ada lagi sisa selain duri nya”

HZ : “setidaknya kau pernah mencoba kan? Kalau ternyata terasa nikmat?”

AM : “sungguh – aku tak berani lagi mencoba sesuatu yang belum pasti. Tak nikmat rasanya”

jangan sekali kau coba yang belum pasti kau ketahui. jangan sekali kau coba sesuatu yang kau sendiri bahkan tidak yakin. sekali kau coba lantas menyesal, maka tak ada lagi yang dapat mengembalikan keadaan seperti sedia kala.

senja jogja menyampaikan kisah seorang pujangga dan sahabatnya yang tidak suka ikan lele.

Belum

time

belum

perjalananku masih panjang

sebuah kisah yang di nanti dan tak terduga masih dibentangkan

tanpa arah dan tujuan dimanakah hati harus ku pijakkan?

belum

aku rasa belum cukup dewasa diriku tuk berlari sendiri

berjalan saja tak sanggup bagaimana bisa ku berlari?

mengejar guratan guratan takdir yang tergores pada lembaran milikku

tapi kurasa aku tak mampu

belum

tempo masih sangat lama untuk kujejaki

panjang sekali waktu yang harus kuamati perdetiknya

tak kunjung habis biarpun kutinggal pergi kemanapun ia

belum

maka jangan tinggalkan aku sendiri dalam sepi ini

jangan biarkan aku tersesat pada rimba gulita yang rimbun ini

jangan lepaskan aku pada tempat yang tak ku kenal ini

jangan tenggelamkan aku pada samudera fana ini

dan satu pinta lagi

jangan lupakan aku yang masih saja sibuk untuk menanti

 

sunrise

Jikalau merindu berbatas

Rindu padamu kan menyeruak bagai tak kendali

Jikalau rindu merasa

Rindu padamu kan bermetamorfosa beribu cara

Jikalau merindu apa adanya

Rindu padamu terpapar nyata dan kini merengkuh tak berdaya

Maka ku merindumu tanpa sadar

Merimbun di tepi hati

Terpangkas paksa kian menggila

Ketika merindu hadir

Aku bersumpah, tak dapat ku menolaknya

Senja yang menciptakan kesenjangan pada perbincangan kita

Mungkin karena lama tak bersua

Dari tatapmu pun aku menelan beribu makna

Berusaha merangkai indah sususan kata

Senja yang menciptakan kesanjungan pda kenangan

Dibawah rinai hujan, kita berpayungkan tangan

Mengapa kau mengajakku berkelana ketika pagi buta?

Menggenggam tangaku erat dan kau ajakku nikmati mentari beserta senyumnya hangatkan rasa kita

Tuk kemudian ku tersesat pada cerita yang tersimpul pada ego milikku

Untuk lupakan mengapa kala itu engkau melepas pelukmu

Membasahi berjuta rintikan tangis hujan

Menyisakan rembulan yang berkilau tuk kita nantikan hingga kini

Mungkinkah tersisa dariku yang tak ingin merelakan

27/03/17

WordPress.com.

Up ↑