MELALUI BAITKU, ABI

aaaaaaaaa

Kini malam, Abi

Rasanya perantauan ini sungguh tak kunjung habis

Semakin dihitung semakin mengusik

Yang tercipta hanyalah penantian

Bahwa aku selalu menanti pulang tak  jemu

Kembali bercengkrama ramai pada hari

Yang dengan paksa ku pangkas disini

 

Malam disini dingin, Abi

Rasanya menusuk setiap jengkal ragaku,

Tertembus capai tulang kecilku

*

Aroma jogja memang lah nikmat

Namun aroma kopi pagimu lebih hangat

Dan membuatku selalu teringat

Pesananmu yang tak pernah berganti setiap saat

 

Banyak hari disini, Abi

Dalam ranah rantau 2 tahun ku jalani

Beratus hari telah terlewati

Ada harsa, ada lelah, adakalanya berduka

Yang tak dapat semua kusampaikan padamu

Bagaimana dapat ku berkisah akan kesedihan

Jikalau engkau menyemogakan bagiku kebahagiaan

*

Maafkan aksaraku, Abi

Jikalau dirasa baru kini kutuliskan engkau dalam baitku

Aku

Mengabdikanmu melalui caraku

Menyampaikan rinduku yang selalu saja bersisa,

 

Sebutlah kini ku berkarya,untukmu

Persembahan kecil dari gadis lugumu

Suronatan NG/II – Jogjakarta
September 2017

Advertisements

UNTUK SAAT INI

11

Makhdum,

Beberapa hari ini namamu tergaung

Dalam benakku aku meraung

Makhdum,

Pena adalah beban bagi separuh hidup

Amanah adalah tanggung jawab bagi atma

Setia adalah konsekuensi atas loyalitas

Berkarya adalah tuntutan untuk totalitas

Makhdum,

Jemariku tak lagi berkarya sebagaimana semestinya

Bukanlah aku yang layaknya dahulu

Apakah degradasi dapat terjadi pada hatiku?

Makhdum,

Jikalau seandainya apabila sahaja

Ah- aku tak dapat lagi mengatakannya

Adakah cerita yang tak tertuliskan kata-kata?

Makhdum,

Tanggung jawab bukan perihal mudah perkara

Keikhlasan pula bukanlah hati yang dengan mudah menerima

Apalah murni jiwa murni rasa

Semua kurasa berjalan baik-baik saja

Namun mengapa kerap hati ini merasa gundah gulana?

Makhdum,

Maka siapakah yang ‘kan memenangkan pertandingan

Apakah ego yang menguasai buana hati?

Bagaimanakah menghadirkan teduh bareuksa pada diri?

Adakah jejak yang pernah kau tempuh,

Dalam hidupmu yang panjang dan penuh faedah

Makhdum,

Aku tak tahu hidupku lama ataukah ternyata tersisa sepenghujung waktu

Ajarkanlah saja padaku

Hal yang kau ketahui

Yang dapat kuresapi

Sekarang juga

Karena ku butuh saat ini juga

Setelah berakhirnya seluruh kata-kata

Maria Qibtya – Jogjakarta

29 September 2017 (22.45)

Terima Aku

 

Kembali kupinta pada Illah

Biarkan hamba-Mu ini berserah

Berkeluh atas hati yang mudah merasa resah

Apakah sekiranya hamba menimbun ribuan salah?

Kembali aku berkisah pada Illah

Wahai Rabb zat atas segala

Biarkan airmataku kini mengalir

Setelah begitu lama dipaksa tak bergulir

Kembali aku mengadu tangis pada Illah

Izinkan hamba-Mu tersedu pada hari ini

Izinkanlah ku sampaikan duka ku pada-Mu

Sungguh aku insan tak sempurna

Yang atas-Nya aku tak memiliki kuasa

Wahai Rabb sang pewujud dari do’a

Kuceritakan lirih pada tiap malam

Namun aku tak dapat melepas rasa sesak

Mengganjal di ujung hati yang kian bercabang

Berapakah dosa hamba sekiranya?

Tuan,

captaingrey

Bagaimana jika ada seorang wanita yang mencintai anda? tentu bukanlah masalah bukan.
namun, bagaimana jika wanita itu seorang yang buruk perangainya? tutur kata yang tak santun dalam berbicara? atau seorang yang biasa saja parasnya?

atau bisa saja, tak cukup pandai mengenal keilmuan dunia. seorang yang memiliki mimpi dan cita yang sungguh untuk mencapainya saya usahanya biasa saja.

ibadah yang tak sebaik kelihatannya, hafalan Al Qur’an yang masih tersendat ketika mengulangnya.
dan bahkan, masih belum sempurna sepenuhnya mampu mencintai Penciptanya.

bagaimana jika wanita itu saya?

View original post

Antara Kita

 

berdoa

jikalau hijrah menjadi sebuah keharusan bagiku

aku sungguh kan melaksanakannya

dengan hati tulus ikhlas yang kan senantiasa tunduk pada Mu

atas kuasa Mu,-

janganlah Engkau melupakanku walau terkadang khilaf terbersit untuk kulakukan

dan kebathilan nyata kuabaikan

Rabbi, lindungilah hati ini akan kedengkian serta kezhaliman perusak atma

sucikanlah jiwa ini dari emosi serta nafsu yang menggerogoti seluruh raga

khusyu’ ingin kembali kuhayati

becumbu dengan do’a kepada Mu yang bergantungan di langit-langit kamar

menangis sedu ingin dekat pada Mu –

namun sungguh sulit, ya Allah

seberapa hinakah hamba Mu ini di mata Engkau

“maka jangan Engkau sesatkan aku,hamba Mu pada jalan yang Engkau murkai

arahkanlah aku untuk selalu berjalan dalam bimbingan Mu

antarkanlah hatiku untuk selalu menemui Mu di senyapnya malam

hanya diantara kita, ku ‘kan bersimpuh penuh permohonan pada Mu”

 

Ingin Mencintai-Nya Sepenuhnya

 

muslimah

lagi-lagi perbincangan antara sang pujangga dan sahabatnya. tapi kali ini bukan senja, ini siang ketika mentari sedang teriknya bersinar.

siang ini bukan sahabatnya yang berkisah, namun sang pujangga yang sedang dalam dilema. oh bukan- ternyata keduanya sama-sama dalam dilema. hanya berbeda saja kasusnya.

HZ : “Mau cinta sama Allah, tapi juga cinta sama makhluk-Nya. ternyata hal itu sulit ya untuk di imbangi”

AM : “mungkin- apalagi kalau ingin mencintai makhluk-Nya karena Dia. itu sepertinya agak sulit. apalagi di usia seperti ini”

HZ : “ingin bisa mencintai makhluk-Nya,yang mampu membawaku untuk lebih cinta kepada pencipta-Nya”

AM : “kamu tidak terlalu susah untuk mengimbangi. kalau aku harus menjauh dari makhluk-Nya yang ingin kusayangi, karena aku lebih memilih untuk mencintai Nya saja-

kadang aku bertanya-tanya. kenapa aku harus mengenal makhluk-Nya yang sama sekali tidak membawa pengaruh baik padaku. hanya membuatku semakin melupakan-Nya”

HZ : “di dunia ini kan ada yang haq dan yang bathil, dan bagi kita untuk mengetahui yang mana yang haq maka mestilah ada bathil-

dan keburukan yang kamu terima, supaya kamu dapat menjadikannya pelajaran di masa mendatang. supaya kamu tahu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, begitu bukan?-

Masya Allah, Allah memang benar-benar menguji hamba-Nya, ia berikan makhluk-Nya yang terlihat nyata sekali di panca indra untuk membuktikan seberapa cinta kita kepada-Nya”

maka bukan berarti semua keburukan yang kita terima dapat kita rutuki dan kita sesali. mungkin itu sebuah ujian bagi kita, ataupun sebuah teguran bagi diri kita untuk menyadari kesalahan yang telah diperbuat.

yang terpenting sekarang adalah, bagaimana kita dapat memantaskan diri di hadapan-Nya. tidak melampaui batas dengan makhluk-Nya. kalau ingin baik-baik ya dengan cara yang baik-baik pula bukan?

 

Pertemuan Ibaratkan Pelangi

LIM

kata mereka kami santai

kata mereka kami terlihat tak ada tekanan

kata mereka kami tak memiliki target pasti

kata mereka – kata mereka dan lagi-lagi kata mereka

biarlah mereka berkata apa

selagi pengorbanan tetap kita junjung bersama dan kita perjuangkan

selagi kebersamaan tetap kita rawat dan kita pertahankan

selagi kontribusi kita tidak habis biarpun pekerjaan mendekati garis finish

ku ibaratkan pertemuan kita adalah pelangi

kau sang biru yang menetapkan pertemuan kita menjadi candu

karena lembutmu dan candamu yang menepis seluruh resahku

dan kau sang ungu yang ceriamu menjadi alasan bagi tawaku

karena kesediaanmu dalam setiap kondisi dan setiap waktu

dan kau sang coklat-putih (walau itu bukanlah warna pelangi)

yang selalu menopang tubuhku ketika tertatih

yang tak pernah lupa untuk ingatkanku perjuangan ini bukanlah sekedar perih

telah satu periode kita lewati

oh belum- 9 bulan yang telah kita lewati

jatuh-bangun kalian hadapi tanpa keluh padaku

kalian tahu?

aku sampaikan maafku teruntuk kalian semua yang bersedia mendengarkan keluh kesahku

aku sampaikan maafku apabila pertemuan kita menjadi pelampiasan emosi

aku sampaikan maafku jikalau selalu abai dan jarang sekali memberikan apresiasi

pesanku untuk kalian semua – anisah, iruz, hazim

sebentar lagi selesai sudah kerja tim kita

namun ingatlah

perjuangan akan tetap diusahakan selagi nafas kita masih diperizinkan

jangan lelah dengan semua yang telah kita jalani

jangan jenuh biarpun kerja kalian tak ada yang menghargai

apa yang telah kalian usahakan untuk kemajuan kita

aku ucapkan terimakasih

kalian semua Perfect In Perfect!

berjanjilah, aku menunggu kehadiran kalian pada perjuangan yang selanjutnya

 

 

Ikan Lele

ikan-lele-goreng

AM : “ah – aku tak suka ikan lele”

HZ : “kenapa? Kau belum lagi mencobanya sudah berkata tak sukalah, tak nikmat lah”

AM : “lebih baik bukan? Daripada aku terlanjur mencicipinya ternyata tidak nikmat, dan aku tak bisa membuangnya karena mubazir – dan aku harus menghabiskan sisanya tanpa ada rasa asin ataupun gurih, aku harus menelan kehambaran itu hingga tak ada lagi sisa selain duri nya”

HZ : “setidaknya kau pernah mencoba kan? Kalau ternyata terasa nikmat?”

AM : “sungguh – aku tak berani lagi mencoba sesuatu yang belum pasti. Tak nikmat rasanya”

jangan sekali kau coba yang belum pasti kau ketahui. jangan sekali kau coba sesuatu yang kau sendiri bahkan tidak yakin. sekali kau coba lantas menyesal, maka tak ada lagi yang dapat mengembalikan keadaan seperti sedia kala.

senja jogja menyampaikan kisah seorang pujangga dan sahabatnya yang tidak suka ikan lele.

WordPress.com.

Up ↑