Belum

time

belum

perjalananku masih panjang

sebuah kisah yang di nanti dan tak terduga masih dibentangkan

tanpa arah dan tujuan dimanakah hati harus ku pijakkan?

belum

aku rasa belum cukup dewasa diriku tuk berlari sendiri

berjalan saja tak sanggup bagaimana bisa ku berlari?

mengejar guratan guratan takdir yang tergores pada lembaran milikku

tapi kurasa aku tak mampu

belum

tempo masih sangat lama untuk kujejaki

panjang sekali waktu yang harus kuamati perdetiknya

tak kunjung habis biarpun kutinggal pergi kemanapun ia

belum

maka jangan tinggalkan aku sendiri dalam sepi ini

jangan biarkan aku tersesat pada rimba gulita yang rimbun ini

jangan lepaskan aku pada tempat yang tak ku kenal ini

jangan tenggelamkan aku pada samudera fana ini

dan satu pinta lagi

jangan lupakan aku yang masih saja sibuk untuk menanti

 

Advertisements

sunrise

Jikalau merindu berbatas

Rindu padamu kan menyeruak bagai tak kendali

Jikalau rindu merasa

Rindu padamu kan bermetamorfosa beribu cara

Jikalau merindu apa adanya

Rindu padamu terpapar nyata dan kini merengkuh tak berdaya

Maka ku merindumu tanpa sadar

Merimbun di tepi hati

Terpangkas paksa kian menggila

Ketika merindu hadir

Aku bersumpah, tak dapat ku menolaknya

Senja yang menciptakan kesenjangan pada perbincangan kita

Mungkin karena lama tak bersua

Dari tatapmu pun aku menelan beribu makna

Berusaha merangkai indah sususan kata

Senja yang menciptakan kesanjungan pda kenangan

Dibawah rinai hujan, kita berpayungkan tangan

Mengapa kau mengajakku berkelana ketika pagi buta?

Menggenggam tangaku erat dan kau ajakku nikmati mentari beserta senyumnya hangatkan rasa kita

Tuk kemudian ku tersesat pada cerita yang tersimpul pada ego milikku

Untuk lupakan mengapa kala itu engkau melepas pelukmu

Membasahi berjuta rintikan tangis hujan

Menyisakan rembulan yang berkilau tuk kita nantikan hingga kini

Mungkinkah tersisa dariku yang tak ingin merelakan

27/03/17

Senja & Coklat Dingin

 

choco

 

Sebuah kisah di kala senja yang merindu pada satu sisi

“kamu tahu? Hilo coklat ini rasanya seperti rindu”

aku menyengir, melirik pada sedotan minumanku.

“bagaimana bisa dikatakan sebuah rindu?”

“ya, karena rasanya pahit di ujung lidah dan manis di kerongkongan. Rasanya pahit namun tetap saja kamu-aku menyesapnya, hingga habis tak bersisa –

Seperti sebuah rindu yang tak lagi nikmat rasanya, tapi kamu tak bisa menghentikan tuk menelannya beserta rasa pahit yang bersisa”

aku-dia, kami, tertawa getir sembari mengesap sisa-sisa rindu yang menggantung pada langit senja Yogyakarta.

Ketika seorang pujangga memberi petuah pada sahabatnya yang tengah dilanda dilema sendu

Dosakah Diriku?

siluet

Aku senantiasa memanjatkan do’a yang kusesahkan pada langit malam beserta anginnya yang menari-nari

Pada gemintang di tengah dinginnya yang mencekam, aku bersimpuh pada Mu

Aku menangis, meresahkan hatiku yang gelisah tak menentu arah

Buta akan kefanaan yang membelenggu atma dalam kehidupan yang kunjung datang

Aku berdosa pada-Mu

Aku tak dapat tertawa ketika seisi dunia menertawakan takdir semu

Dan kini telah terlukiskan tangan-tangan pendusta

Aku berzina

Mohon maaf pada Mu

Aku bodoh dengan segala kecerdasan yang terukir maya di pasir hilang di tangan angin

Membawa suara jahil yang merajalela

Aku hanyalah ketidak warasan yang tiba-tiba lahir

Minta ampunku pada Mu

Tanah Rantau, Umi

 

sunset

Umi,

Tahukah kau akan sesuatu yang kupendam telah lama di tanah Jogja ini?

Aku merindumu setiap kali ku jejakkan kakiku pada stasiun kereta nun di Jakarta

Aku tak tahan untuk tak merindu pada setiap lembut yang kau berikan padaku

Sungguh luruh airmataku andaikata aku tak kuat tuk menampungnya

Umi,

Tahukah kau bahwa aku telah belajar banyak di tanah rantau ini?

Betapa setiap pengalaman adalah guru dari segal-gala

Dan aku mendapatkan seluruhnya disini, diterik dan rintik bumantara ini

Kulewati tuk kutempa pribadiku menjadi sebuah kebanggaan bagimu

Umi,

Tahukah bahwa jarang sekali puisi tertuliskan tertuju untuk ‘umi’?

Dan kini aku sedang berusaha memvariasikan seluruh huruf yang tersusun ini

Menjadi rangkaian yang indah untuk dibaca oleh mata indahmu

Menjadi melodi yang tak asing lagi mengalun di benakmu

Umi,

Tahukah satu rahasia lagi yang belum sempat kusampaikan padamu?

Aku berjuang menegakkan harga diri demi nama baikmu yang kan terpancang

Dan kuharap kan teringat disetiap benak seluruh insan

Bahwa engkau adalah seorang ibu dari aku yang dibanggakan

Umi,

Tahukah kau bahwa seluruh ambisiku ingin kupadamkan sesegera mungkin?

Mungkin kau akan bertanya mengapa?

Karena ambisi telah merenggut hatiku dan mengibarkan bendera ego

Dan aku tak ingin bermetamorfosa menjadi sosok yang mengerikan

Terkendali oleh iblis ego yang memenjarakan benakku dari putih

Umi,

Tahukah kau bahwa aku temui kisah indah di tanah Jogja ini?

Harap-harap tidak akan ada yang menyakitiku di tanah ini

Jangan sampai seseorang pun menyiakan seluruh perasaanku

Ia yang telah menjadikan hari di sini bahagia

Dan kuharap kau tahu bahwa aku senantiasa menantikan hadirnya

Umi,

Tahukah kau jikalau aku mengharapkan sebuah kepulangan?

Yang panjang tanpa perlu kunaiki kembali kereta untuk meninggalkan kampung

Kepulangan yang mengantarkanku pada kenyamanan

Tengah kunantikan hari dimana aku berjanji kan mengabdi padamu

Umi,

Sungguh obati rasa rinduku ini dan sapalah aku dengan bahagia di wajahmu

Janji padaku tuk takkan mengecewakanmu, sungguh

Maka nantikanlah kemapananku diusia yang masih terbentang

Malam 29/03/17

dedek

semalam, aku bermimpi mengenai dirimu, yang tengah merindukanku. Sungguh, ku ingin lupakan waktu dan berlari kedalam pelukmu

 

Melodi Lawas

musik

Kamu dan segala tentang rinduku

Dosakah apabila hanya aku yang menyimpan rindu yang tak tertahankan?

Bolehkah aku yang menyebut namamu kala malam menjelang?

Bolehkah aku menyapa dirimu di pagi mendatang?

Ini perihal merindu. Peraasaan yang tak sedangkal itu

Ini perihal merindu. Yang mendalam dan mendarah daging di sekujur tubuhku

Aku bukan seorang jutawan yang merindu tanpa alasan

Aku bukan seorang bajingan yang merindu karena kesepian

Aku merindumu

Segalamu

Yang mungkin tak ada pada diriku

Yang mungkin tak ada pada dirinya

Yang mungkin hanya kurasa dalam sendiri saja

Ku tanya sekali lagi, kamu

Rindu?

Butuh berapa ketukan agar kau bukakan pintu hatimu?

Tidak sebatas rasa yang terbuang sia

Teronggok didepan pintu hatimu

 

Aku yang merasa salah ketika mengingatmu

Aku yang merasa malu ketika terbayang wajahmu

Aku yang merasa takut akan kepergian dari dirimu

Aku yang merindu akan sosokmu

Taukah kau perihal rasa itu?

Apakah aku kecewa?

Tidak, dirimu tidak sebatas angin lewat sahaja

Supaya kau tahu tak ada kamu yang sia-sia

Tak ada pula aku yang berani menerka-nerka sebuah rasa

Aku takkan bisa

Kamu dan segala rinduku

Yang takkan habis terkuras waktu

WordPress.com.

Up ↑